Kisah Ibu Etu, Dari Rujak Kacang Mete Hingga Jadi Seleb Medsos

ibu Etu dan redaksi kawan pustaka

Bumbu rujak kacang mete panggang tercetus dari kesukaan Restu Utami Dewi makan rujak. Setelah akun IG-nya di-endorse pegiat diet, follower-nya meningkat signifikan, mulai dari sinilah bumbu rujak kacang mete jadi hits.

Kumpulan resep menu masakan dan kue Bu Restu kini sudah menjadi dua wujud buku. Diterbitkan Kawan Pustaka dan masuk kategori best seller. Buku pertama terjual 8.000 dalam masa pre-order. Sementara pre-order Go Kitchen 2 baru saja selesai, terjual sekitar 5.000 eks.

Nah, ingin tahu kisah Ibu Etu membangun usahanya? Berikut ini fakta dan pengalaman-pengalaman menarik yang ia bagikan.

 

Ini Dia Fakta Tentang Restu Utami Dewi

 

Modal nekat

Ijazah S2-nya nampaknya tidak berlaku lagi bagi ibu Restu. Ia merasa tidak cocok menjadi pekerja di kantoran. Lalu ia nekat. Nampaknya itulah hobinya. Modalnya nekat terjun bebas belajar menjadi wiraswasta dan bekerja dari rumah. Setelah memilik anak 1, ia membuat brand CakiCake, kira-kira 8 tahun lalu.

 

Tamparan dari Orangtua Kerasa Sampai Di sini

Setelah bekerja selama beberapa tahun di tempat usaha orangtua Restu Utami Dewi, Pak Su (panggilan suami Ibu Etu), akhirnya memutuskan membuka usaha sendiri. Ini pun setelah mendapatkan “desakan” dari orangtua Ibu Etu, agar membuat usaha baru. Karena di tempat usaha bapaknya, sudah termasuk stabil dan tinggal mengawasi.

Ibu Etu dan suami pernah putus asa, bingung mau memulai usaha apa. Pernah terpikir mau menjadi reseller kue di Pasar Senen Jakarta; berangkat tengah malam, paginya sudah sampai di Cikampek lagi. Pak Su, pernah juga mengajak ke Pekalongan, belanja baju batik, untuk dijual lagi. Sudah blank banget mau usaha apa.

 

Terinspirasi Edible Image Cake

Edible image cake adalah kue dengan hiasan foto di permukaannya. Sempat menjadi tren, karena bisa menampilkan foto apa saja. Ide unik ini coba diadopsi di Cikampek oleh Ibu Etu. Modal printer, mixer besar, dan oven, ia dapatkan dengan meminjam uang dari orangtua.

Brand CakiCake pun mulai dikibarkan di Cikampek. Nama CakiCake diambil dari nama anak pertamanya, Shaqi. Ibu Etu memilih bahan-bahan premium untuk memproduksi kuenya karena ia sendiri menyukai makanan yang enak. Sempat mendapat sindiran, “Jangan beli di CakiCake ihh mahalllll bangeeett, bla bla bla.

Tapi ini kalimat yang terus ditanamkan dalam diri Ibu Etu. “Sabar, sabar, sabar, saya bukan tukang tipu, saya sama seperti penjual lainnya jualan pasti pengen dapat untung”. Setahun berlalu, jarang banget mendapat pesanan. Dua tahun berlalu, lumayan ada yang order satu sampai dua cake dalam sebulan.

 

Gagal Promo

Apa saja strategi marketing yang dilakukan Ibu Etu? Berbagai strategi marketing dilakukan. Mulai dari bagi-bagi brosur di tempat ibu-ibu kumpul, di TK, sekolah, majelis taklim, arisan, dan banyak lagi. Ibu Etu juga memasang banner di warung makan di Cikampek. Ia pun door to door kasih tester ke bank, kantor, dan pabrik. Ia menawarkan produk-produk kue sambil bawa sample. Semuanya rata-rata suka, tapi setelah tahu harganya, banyak yang kabur. Ternyata mindset calon pembeli ingin kue yang enak, besar, dan yang paling penting: MURAH!

 

Strategi Promo Lewat “Udara”

Soal promo, ia tetap pantang mundur. Promosi CakiCake melalui gelombang radio nomor 1 di Cikampek pun pernah ia lakukan. Hasilnya sebulan pasang iklan, dapat 1 orderan.

Namun setelah itu orderan yang masuk mulai lumayan variatif, tidak cuma kue tapi tumpeng. Keterampilan membuat tumpeng belum ia kuasai, tapi karena bahagia dapat calon konsumen, ia nekat saja dan bilang “BISA!”. Akhirnya dengan mengandalkan Google dan bantuan saudara, akhirnya ia belajar membuat tumpeng.

 

Bertemu Taktik “Word of Mouth Marketing”

Pesanan dari salah satu pelanggan yang “berpengaruh” di kotanya, menjadi pintu pembuka pada taktik marketing yang ternyata lebih sederhana, namun cukup efektif. Word to mouth marketing. Ternyata strategi pemasaran dari mulut ke mulut untuk merekomendasikan “jualannya” berhasil.

Setelah puas dengan pesanan dari Ibu Etu, salah satu customer yang punya pengaruh di kotanya itu merekomendasikan ke orang lain. Ibu Etu, baru sadar kekuatan dari model pemasaran ini.

 

Usaha Sepi Pembeli

Tahun 2013 dipercaya Ayahnya untuk mengelola semacam foodcourt. Ibu Etu dan Pak Su memiliki konsep ‘One Stop Resto’, semua makanan ada. Pokoknya PALUGADA, apa yang lu mau gua ada. “Gak ada juga bisa diada-adain,”ucap Ibu Etu sembari tertawa.

Foodcourt-nya tidak langsung ramai. Awal-awal sepi banget, ia sampai mengantuk menunggu pelanggan datang. Inilah yang membuatnya sedih, biaya produksi tetap harus berjalan padahal belum ramai pelanggan.

Setahun berlalu. Suatu waktu ia ke Banten diajak sepupu makan sop duren yang lagi hits di Serang. Antriannya panjang. Ia bilang ke suami,”Hebat yaaa kok orang jualan bisa sampai kaya gini, kapan kita bisa gini juga ya.”

 

Menjajal Menu Baru

Pendek cerita, sepulang dari Banten, ia mengadopsi jualan sop duren dan praktik di warung-nya. Hasilnya, diluar dugaan. Warung menjadi ramai banget. Melihat peluang ini, ibu Etu membuat menu-menu baru lainnya yang lagi hits.

Alhamdulillah dari pegawai cuma 2 orang, dalam 3 tahun CakiCake Foodcourt memiliki pegawai 20 orang. Chef-nya ia tangani sendiri. “Lari ke sana ke mari saat warung penuh pembeli dan pesanan membludak, sambil sesekali gendong si Mikha (anak kedua yang saat itu masih bayi)”, cerita Ibu Etu.

 

Melepas lahan usaha

Usaha jualan sop duren tidak berlangsung lama. Alasannya cashflow penggelolaan warung ini terganggu. Warung-pun tutup. Tahun 2016 adalah tahun terberat untuk Ibu Etu.

Ibu Etu kembali lagi memulai menerima orderan kue. Di sisi keuangan masih sulit. Ia belum bisa membayar pegawainya. Namun pegawainya memakluminya. Soal gaji, ia pun berhutang dahulu ke pegawainya. “Sedih campur haru rasanya,” ungkapnya. Akhirnya gaji bisa terbayar, saat lebaran. Saat itu Ibu Etu banyak menerima orderan kue kering.

 

Berkah Bumbu Rujak

Inspirasi membuka pesanan menu diet sehat berawal dari keberhasilannya diet ala mayo. Selama 13 hari, Ibu Etu makan tanpa nasi dan tanpa garam. Sebuah tantangan yang berat baginya. Berat badan berhasil diturunkan. Menu-menu diet ia bagikan di Instagram.

Lalu inspirasi untuk buka pesanan catering menu diet sehat ia wujudkan. Gagasannya, disambut antusias yang luar biasa. Perlahan kondisi keuangannya mulai membaik.

Inilah contoh hobi yang menghasilkan uang. Ibu Etu yang hobi ngerujak dan bereksperimen memasukkan kacang mede ke bumbu rujak, dan mendadak ngehits. Rujak mete ini dipasarkan di Cikampek via BBM, Facebook, dan Instagram yang pengikutnya baru berjumlah 2.000-an. Saat itu Cikampek pun demam rujak kacang mede.

Setelah produknya di-endorse salah satu penggiat diet di Instagram, akun @restuutamidewa followers-nya naik signifikan. Bumbu rujak pun dijual secara online di Instagram. Di luar dugaan, banyak permintaan bumbu rujak mulai berdatangan dari luar kota. Order bumbu rujak mem-bludak.

Untuk mengatasi order yang banyak, karena pengerjaan masih manual, akhirnya dibuat sistem antrian/PO sampai 3 minggu ke depannya. “Tangan saya sampai memar-memar biru kaya kena KDRT, hihihi. Siapa sangka, berkat bumbu rujak pula saya bisa tampil di beberapa acara stasiun TV,” kisahnya bersemangat.

 

Tawaran Kerjasama

Kerjasama datang di awal September 2017. Ibu Etu berkenalan dengan salah satu perusahaan produk susu dan mentega. Perusahaan tersebut mengajak bekerja sama. Ia dipercaya untuk cooking demo bersama chef profesional mereka di 5 kota besar di Jawa Barat. “Antara senang, bangga, tapi takut, siapa saya? Saya cuma ibu rumah tangga biasa yang kebetulan bisa masak dan bikin kue, tapi keahlian masih jauuuhhh banget dibanding profesional”, paparnya. Alhamdulillah hasilnya diluar ekspekstasi. Peserta membludak dan perusahaan tersebut memperpanjang kontrak untuk tahun 2018. 

 

Mimpi jadi nyata

“Paginya saya dapat telepon dari penerbit yang saya idamkan dengan Pak Su. Rasanya kaya PDKT sama cowo, trus langsung ditembak, itu bikin ser ser gimana gituu ya, “Inilah impian yang menjadi kenyataan, membuat buku di penerbit besar terwujud.

Restu Utami Dewi penulis Go Kitchen

Restu Utami Dewi penulis Go Kitchen.

Kondisi pekerjaan yang sangat padat, membuatnya agak pesimis bisa menyelesaikan bukunya. Bisa dibayangkan, di tengah mengerjakan orderan kue, cooking demo ke beberapa daerah, punya 2 anak laki-laki tanpa pengasuh, belum lagi sedang hamil. Namun semangat ’45 Ibu Etu dalam mencoba hal baru kian menyakinkan. “Saya pasti bisa!”

Di luar dugaan, ketika Pre Order buku  Go Kitchen dibuka terjual 8.000 eksemplar!! Semua buku harus ditandatangani, untung aja tenaga penulisnya 11-12 kaya kuli bangunan,wkwkwk.

 

 

 

 

Bahagia bisa berbagi

Sebuah perasaan bahagia yang gak bisa saya gambarkan. Sama sekali gak pernah terbayangkan sebelumnya kalau hobi saya ke dapur bisa membuka pintu rezeki buat saya dan menginspirasi orang lain. Resep jualan saya tuangkan semua di buku supaya tidak ada dusta di antara kita ya buibu, wkwkwk. Semoga buibu semua, walau di rumah saja tetap bisa produktif dan kreatif untuk membantu menggerakkan roda perekonomian keluarga, biar dapur makin ngebul, biar anak-anak makin gembul. Mari kita berjuang bersama ya buibu, semangat Go Kitchen!!!

 

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *