Cara Paling Sederhana Agar Ikan Lele Aman & Sehat Dikonsumsi

cara aman konsumsi ikan lele

Perasaan ‘gamang’ atau ragu-ragu sering hinggap di hati kita, jika akan membeli ikan lele hidup di pasar tradisional. Kehalalan ikan lele pun dipertanyakan. Hal ini cukup beralasan mengingat ikan lele terkenal sebagai ikan yang doyan makan apa saja.

 

Selain pelet buatan pabrikan, pakan utama ikan lele tak bisa lepas dari limbah. Limbah apa saja sudah pasti mau. Karena memang ikan lele ditakdirkan sebagai ikan paling rakus, dan memiliki selera makan paling tinggi dibanding ikan jenis lain. Ikan lele akan makan sekenyang-kenyangnya tanpa mengukur elastisitas perutnya,

 

Ikan lele juga memiliki daya tahan hidup tinggi. Jangan kaget! Dibudidayakan di sawah, kolam pekarangan, kolam kebun, kubangan air, bahkan sampai air comberan sekali pun, ikan lele tetap dapat hidup dengan nyamannya. Bahkan tanpa diberi pakan makanan selama 3 minggu pun, ikan lele masih bertahan hidup. Jika lagi lapar, dan tidak ada makanan apa pun di sekelilingnya, teman sendiri pun ‘diembatnya’.

 

Guna menyiasati harga pelet mahal

Kontribusi biaya pakan ikan lele, berupa palet pabrikan (tipe 581, 582, FF-999, PF-500, PF-800, PF-1000, 781-1 sp, 781-2, dan 781 polos) dapat mencapai 70% dari seluruh total biaya pemeliharaan yang harus dikeluarkan oleh pembudidaya ikan lele. Sungguh, ini menjadi beban berat bagi peternak jika hanya mengandalkan pelet pabrikan yang harganya relatif mahal. Karena itu, peternak harus mampu menyiasati penggunaan pakan makanan alternatif yang murah, dan mudah didapat hingga bisa mendapat keuntungan yang diharapkan.

 

Ikan lele juga cepat lapar, kalau cuma diberi pakan makanan pelet dengan kadar protein rendah di bawah 30%. Makanya, mau tidak mau, ikan lele harus disubtitusi dengan pemberian pakan makanan tambahan yang memiliki nilai protein, dan lemak hewani yang tinggi, agar ikan lele bisa tumbuh kembang maksimal.

 

Nah, protein dan lemak hewani yang tinggi, tapi bernilai jual murah, kebetulan hanya bisa didapat pada limbah rumah tangga (nasi, lauk basi), limbah rumah makan (nasi basi, atau sisa-sisa makanan), limbah pasar (isi perut ikan bandeng, ikan runcah busuk), limbah peternakan (ayam mati, usus ayam, kulit ayam, darah ayam, atau telur yang gagal menetas), dan limbah pemotongan hewan (darah kambing, darah sapi).

 

Tentunya limbah tersebut tidak diberikan ‘ujug-ujug begitu saja. Ada proses panjang menyertainya. Kalau tidak direbus, ya, dibakar terlebih dahulu sebelum diumpankan. Limbah makanan lezat lainnya adalah belatung, maggot, kecebong, atau cacing tanah. Limbah sayuran dari pasar juga ikut dijejalkan. Walaupun porsinya kecil, tapi mampu meningkatkan kadar serat ikan lele agar dagingnya renyah.

 

Di dalam Islam hewan yang mengonsumsi kotoran disebut sebagai ‘Al-jalalah’. Kotoran yang dimaksud di sini adalah kotoran manusia, kotoran hewan, atau sejenisnya. Menurut hadits yang diriwayatkan Abu Daud, Tarmidzi, dan Ibnu Majah, ‘Al-jalalah, haram dikonsumsi. “Rasulullah melarang dari memakan ‘Al-jalalah’ dan susunya.

 

Namun, ‘Al-jalalah’ boleh dikonsumsi jika hewan tersebut dikurung selama tiga hari, agar tidak mengonsumsi kembali kotoran, dan kotoran yang telah dikonsumsi oleh hewan tersebut sudah tidak ada lagi di dalam tubuhnya. Sebenarnya hadist di atas memang lebih ditujukan kepada hewan berkaki empat.

 

Dengan mengacu pada hadist tersebut (qiyas) ikan lele yang memakan limbah tersebut, sebelum dikonsumsi, harus ‘dipuasakan’ atau ‘diberok’ terlebih dahulu selama 3 hari 3 malam.

 

Bagaimana cara mempuasakan atau ‘memberok’ ikan lele?

  1. Beli ikan lele yang masih hidup dan sehat di pasar tradisional. Sesampainya di rumah, masukkan ke dalam ember yang dalam, dan beri air yang banyak. Biarkan ikan lele hidup dalam ember terbuka selama 3 hari 3 malam tanpa diberi pakan makanan dalam bentuk apa pun. Anda tak perlu khawatir, karena ikan lele mampu bertahan hidup tanpa diberi pakan makanan maksimal 3 minggu.
  2. Setiap hari, ganti air perendamnya dengan yang baru 2-3 kali, pagi, siang, dan sore hari. Proses puasa/berok/detoksifikasi ini, akan mengeluarkan semua zat racun yang menumpuk pada tubuh ikan lele, dan larut bersama air perendamnya. Jika air perendam tidak diganti, dikhawatirkan kotoran yang sudah keluar dari dalam tubuh ikan lele akan dimakan kembali.
  3. Setelah proses puasa 3 hari 3 malam selesai, bobot ikan lele akan berkurang sedikit, dan ujung sungut, atau patilnya akan berubah dari warna hitam, menjadi keputihan. Itu menandakan bahwa proses puasa berhasil.
  4. Sekarang ikan lele halal DIKONSUMSI. Dan siap diolah menjadi sajian lezat bercita rasa nusantara yang nikmat, banyak bumbu, atau gaya mancanegara yang minim bumbu.

 

  

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *