Pernah nggak, ngerasa hidup kayak lagi kompetisi? Apa-apa harus cepat, nggak ada jeda, kejar-kejaran pencapaian… tapi yang didapat cuma lelah.
ala Dewi Apriyani
"Semakin dikejar, yang didapat cuma lelah."
Buku Slow Living mengajak kamu mengubah ritme hidup jadi lebih mindful — dengan cara yang lebih sadar dan tenang. Bukan tentang berhenti, tapi tentang menjalani hidup dengan lebih sadar di tengah tekanan yang terus berjalan.
Plus — diajarkan menghadapi tantangan & krisis masa depan dengan strategi yang solid. Siaga Krisis 2030.
5 alasan kuat kenapa buku ini berbeda
Mengajak melihat ulang makna sukses, rasa cukup, dan arah hidup yang sesungguhnya.
Menjalani hidup dengan lebih sadar di tengah tekanan — bukan berhenti, tapi bergerak lebih bijak.
Peka melihat perubahan & potensi krisis dengan sikap yang lebih tenang dan terarah.
Dari finansial hingga ketahanan pangan — langkah kecil menuju hidup yang lebih mandiri.
Kisah nyata penulis yang relate, jujur, mengalir, dan mudah dipahami.
Merasa hidup berjalan terlalu cepat dan penuh tuntutan.
Sibuk terus, tapi lelahnya terasa sia-sia.
Ambisius tapi mulai mempertanyakan arah hidup.
Ingin hidup lebih tenang tanpa kehilangan arah.
Ingin lebih siap secara finansial, bukan sekadar cukup.
Mulai sadar pentingnya kesiapan menghadapi krisis 2030.
Tertarik membangun ketahanan pangan dan hidup lebih mandiri.
Menanam bukan hanya tentang pangan, tetapi tentang mental.
Beternak bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang kesabaran.
Mengatur keuangan bukan hanya tentang angka, tetapi tentang disiplin.
Buku ini merangkum ritme perjalanan seorang Dewi Apriyani yang menjalani hidup dengan pelan, penuh kesadaran, dan terarah. Slow living di sini menjadi strategi nyata: membentuk ketahanan pangan mandiri di rumah sebagai persiapan menghadapi masa depan.
Sebuah ekosistem sederhana dibangun melalui konsep integrated farming — tanaman, ternak, tanah, dan manusia saling terhubung dalam satu circle hidup.
"Jika suatu hari bumi benar-benar berubah, harapannya sederhana — kita sudah terbiasa hidup tidak berlebihan. Tidak panik. Tidak cemas."
"Buku ini nggak nakut-nakutin soal krisis 2030, tapi justru bikin melek dan ngasih alasan masuk akal kenapa kita harus lebih siap."
"Kirain slow living artinya cuma memperlambat ritme hidup, ternyata lebih luas — tentang rasa cukup, rasa syukur, tetap punya ambisi tapi bukan ambisius."
"Buku ini ngajarin kita punya rencana matang untuk jangka panjang, bukan hidup kejar-kejaran ga tentu arah."
"Sekarang gak kepikiran cari validasi dari orang lain karena yakin setiap orang punya pencapaiannya masing-masing."
"Panduan bertanamnya lumayan banget bisa aku terapin di rumahku yang lahannya mungil. Ada tips-tips lain yang bermanfaat juga!"
Khusus paket Limited Edition
Edisi spesial yang lebih personal dan berkesan langsung dari Dewi Apriyani.
Mulai praktik hidup mandiri dari sekarang, langsung dari rumahmu.
Belajar langsung — perlengkapan dasar berkebun untuk mulai hari ini.
Tidak semua yang kamu kejar harus dikejar.
"Mulai perjalananmu hari ini."