Anak Anda Susah Membaca? Mungkin Metode Mengajarinya Kurang Tepat

abacaga cara praktis belajar membaca

 

Sering kali kita mendengar orangtua panik jika anaknya belum bisa membaca dengan lancar padahal sudah masuk tingkat Sekolah Dasar. Hal ini bagi sebagian orangtua cukup mengganggu karena fase belajar membaca sangat penting, terutama untuk mengikuti mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Jika mereka tidak bisa mengikuti pelajaran, kemungkinan besar anak akan menjadi stres, menutup diri, cenderung jadi bahan bullying, dan efek negatifnya mereka akan mengungkapkan perasaan ke dalam tingkah laku yang memberontak. Ketika orangtua sudah merasa mengajari anaknya belajar membaca rutin setiap hari, tetapi tidak ada kemajuan yang berarti, jangan dulu menyerah!

Lalu apa masalahnya?

Coba diteliti dan diperiksa apakah anak Anda mengalami gangguan di pendengaran, penglihatan, atau daya ingat yang lemah? Apakah anak Anda memiliki pemahaman atau cara belajar yang berbeda seperti anak disleksia, disgrafia, dan lain sebagainya? Atau apakah anak Anda berbakat di bidang tertentu, misalnya mereka hebat dalam matematika tetapi tidak dalam hal membaca?

Jika anak tidak memiliki kekurangan atau hambatan seperti yang di atas, maka alasan yang terakhir yaitu cara pengajaran dari orangtua yang kurang tepat. Selama ini anak-anak sering ‘dipaksa’ untuk belajar dan dengan durasi yang cukup lama hingga berjam-jam. Namun, cara tersebut tidak efektif, malah membuat anak tertekan. Berikut beberapa faktor mengapa anak begitu sulit belajar membaca:

  1. Tingkat stres anak dan orangtua tinggi.

Terkadang orangtua tidak mengetahui apa yang mereka ajarkan kepada anak. Mereka hanya mengambil mentah-mentah apa yang ada di buku tanpa mengerti bagaimana menyampaikannya kepada anak. Sehingga ketika anak tidak memberikan respon yang diharapkan, orangtua mulai menekan dan memaksa. Lama-lama tingkat stres orangtua semakin meningkat jika anak tidak mengerti juga walaupun sudah diajarkan berulang-ulang. Bahkan menjadi frustasi hingga nada suara meninggi sampai membentak.

Anak yang tadinya semangat untuk belajar menjadi ikut stres karena mereka ingin bisa tetapi belum mengerti bagaimana untuk menjadi bisa. Dan mulai ada ketakutan di dalam diri mereka, takut untuk melakukan kesalahan dan akan kena amarah atau bentakan dari orangtua.

  1. Banyaknya gangguan

Anak akan kurang berkonsentrasi belajar jika banyak gangguan di sekitar mereka. Misalnya belajar sambil menonton televisi, belajar sambil bermain gadget, ada ajakan teman sepermainan untuk bermain di luar, belajar sambil makan, dan sebagainya.

  1. Suasana tidak menyenangkan

Jika anak merasa terpaksa atau setengah hati untuk belajar, apa pun yang kita ajarkan kepada mereka tidak akan mereka ingat. Apalagi jika mereka harus duduk tenang di depan meja dengan buku-buku di hadapannya selama berjam-jam.

  1. Mengajarkan banyak hal dalam sekali waktu.

Anak disuruh untuk menghapal semua abjad sekaligus, lalu disambung dengan mulai membaca buku cerita, menuliskannya, dan melafalkannya. Tentu saja mereka akan merasa lelah. Begitu diulang kembali keesokan harinya, mereka pasti lupa.

  1. Mengeja huruf per huruf.

Selama ini kita mengira kunci untuk bisa membaca ialah dengan menghapal dan mengeja huruf. Tetapi kenyataannya anak sulit menghapal dan mengerti kata-kata dengan mengeja hurufnya. Anak lebih mudah mengerti dengan menghapal bunyi suku kata.

Sementara itu, ada beberapa tips agar anak lebih mudah belajar membaca, antara lain:

 

  1. Ajarkan membaca dan mengeja secara terpisah. Karena membaca dan mengeja mempunyai metode pengajaran yang berlainan. Biarkan anak mendengarkan dan meniru apa yang kita bacakan kepada mereka tanpa mengeja. Lain waktu ajaklah anak untuk belajar mengeja suku kata, bukan per huruf. Dengan begitu anak akan memiliki pemahaman yang cukup baik untuk mengenal kata dari mengeja serta kalimat dari membaca.

 

  1. Konsisten untuk mengulangi kembali. Mengajarkan sekali atau dua kali tidak akan terlalu berpengaruh kepada anak. Jika ingin anak benar-benar menguasai, teruslah berlatih lagi dan lagi. Pengulangan materi yang sama tidak akan membosankan jika metode yang digunakan berbeda. Misal dengan game-game kecil atau menggunakan flashcards agar menarik atau mempraktikkan langsung di lapangan. Dengan begitu anak akan benar-benar mengerti dan terbiasa, tidak hanya mengingat.

 

  1. Jaga pelajaran berdurasi pendek tetapi sering. Tidak perlu orangtua menyuruh anak belajar membaca hingga berjam-jam, siapkan saja 10-15 menit setiap harinya. Dengan begitu anak tidak akan merasa bosan dan lelah. Selain itu belajar akan menjadi lebih efektif karena anak masih dalam kondisi konsentrasi dan antusias yang masih tinggi.

 

  1. Sering-seringlah memuji anak. Sekecil apa pun hasilnya, walaupun anak baru mampu mengucapkan satu kata, berikan pujian kepada mereka dengan kata-kata yang positif. Dengan begitu mereka akan termotivasi dan bersemangat untuk bisa belajar lebih giat lagi serta memberikan yang terbaik. Jangan menghardik atau mengatakan hal-hal negatif kepada anak ketika dia salah atau tidak bisa saat belajar karena itu akan membuat anak merasa takut, minder, dan membuatnya merasa bahwa dia tidak akan bisa melakukannya dengan baik selamanya.

 

Jadi telaah kembali apakah cara pengajaran kita sebagai orangtua sudah tepat? Yuk, intip metode cara belajar membaca yang mudah dan efektif dalam buku ‘Abacaga; Cara Praktis Belajar Membaca untuk Anak 4-6 Tahun‘. Cukup dengan 10 menit setiap hari, tanpa mengeja, dan dilengkapi dengan flashcards suku kata yang memudahkan anak belajar membaca. Dapatkan di toko buku terkemuka dan toko buku online sekarang juga!

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *